27 Agustus 2012

Ramadhan Tanpa Dirinya


Tahun ini adalah tahun pertama Ramadhan, aku tidak bersama kekasihku. Tahun terberat aku menjalani ramadhan tanpa ARMAND, Armand adalah kekasih terbaikku, kekasih terhebatku. Tanpanya nyawaku seperti hilang. Beberapa bulan lalu Armand dipanggil yang maha kuasa, Tuhan saat itu rasanya aku tak percaya kalo Armand sudah tidak ada. Aku seperti mimpi, mimpi yang sangat-sangat buruk. Saat acara PERSAMI sekolah, aku, armand, dan teman-teman lainnya menaiki bus. Ada 3 minibus yang memberangkatkan siswa ke acara PERSAMI, awalnya aku di bus 3 bersama armand namun karena dipaksa oleh seniorku disuruh pindah bus terpaksa aku pindah bus dengan kesal. Akhirnya aku pindah ke bus 1, lalu aku sms Armand. | uh...sayang kesel banget ih masa aku disuruh pindah bus padahal akukan pengen sama kamu. | gapapa sayang nanti juga kita ketemu di tempat perkemahan. | iya yah sayang, tapi entah kenapa rasanya berat banget yang jauh dari kamu | ih sayang kamu lebay banget kaya aku mau meninggal aja hahaha | sssttt...ah ngomongnya jangan gitu.| yang, perjalanan masih jauh nih aku cape mau tidur.|yaudah sayang| *itu adalah terakhir aku komunikasi sama Armand* Beberapa jam kemudian sampai lah aku di bumi perkemahan, wowww...udaranya sejuk tapi lagi-lagi perasaan aku tidak enak, Namun tak aku hirau kan. Entah mengapa tiba-tiba aku mengeluarkan dompet dan terus memandangi foto aku bersama Armand, lalu entah mengapa juga air mataku menetes. Guru pembimbing di Bus 1, dapet telepon dari guru pembimbing di bus 2 kalau bus 3 mengalami kecelakaan bus nya masuk jurang dan penumpangnya tidak ada yang selamat. Aku langsung menangis tersedu-sedu rasanya aku ingin roboh, aku tak kuat mendengar kenyataan pahit ini. Salah satu sahabatku mencoba menenangkan aku. Bus 1 pun menuju tempat terjadinya kecelakaan, saat perjalanan aku tidak berhenti menangisi kejadian itu. Aku tidak bis membendung air mataku ini. Sampai di tempat kejadian aku bergegas turun dari bus dan ingin segera melihat keadaan Armand. Namun tidak diperbolehkan oleh guru pembimbing. Rasanya saat itu aku ingin lompat ke jurang itu, aku masih saja menangis sulit rasanya mengikhlaskan kejadian ini. Beberapa hari setelah Armand pergi meninggalkan aku untuk selama-lamanya aku masih saja terdiam, masih terpukul atas kepergian Armand. Ibuku selalu menasehatiku agar aku mengikhlaskan kepergian Armand namun rasanya sulit. Aku menjalin hubungan dengan Armand sejak aku SMP kelas 1 sampai sekarang aku kelas 2 SMA namun Arman duluan meninggalkan aku. Armand adalah laki-laki terbaik. Ramadhan Tahun pertama tanpa dia rasanya hambar, biasanya saat sahur handphoneku selalu berbunyi tanda dia menelfonku. Kalau aku telat bangun handphoneku pasti banyak missedcall dari dia paling banyak 70 missed call, 40 sms yang sama. Tapi, tahun ini handphoneku sepi ga ada missedcall atau sms dari dia. Dia selalu mengingatkan aku shalat 5 waktu, dan saat aku bersama dia terus waktunya shalat kita selalu shalat berjamaah dia jadi imam, namun tahun ini aku tidak merasakan di imami dia. Kalo dia buka puasa dirumahku, orangtuaku selalu welcome dan perlakuan orangtuaku pada Armand itu seperti anaknya sendiri. Orang tuaku juga suka dengan Armand sifatnya, Pribadinya. Ramadhan tahun ini cukup berat aku menjalaninya, namun aku harus mengikhlaskan Armand agar dia tenang dialam sana. SELESAI





Tidak ada komentar:

Posting Komentar